loading...

Sunday, May 1, 2016

Berjuang Demi Pendidikan


Berjuang Demi Pendidikan


Oleh:

Amrullah
Mahasiswa Teknik Elektro Industri
Angkatan 2011 Universitas Negeri Padang


Sekitar 131.867 Mahasiswa terdaftar di perguruan tinggi khususnya Sumatera Barat, kurang lebih hanya 10% sambil bekerja dan 8% lagi cuti. Saya menjadi salah satu mahasiswa dalam kategori 10% tersebut. Saya harus bekerja, untuk biaya menyelesaikan studi.

Mulai dari jualan pulsa, jualan aksesoris hp, jual bahan batik hingga hari ini saya bisa bekerja di instansi yang bergerak di bidang sosial masyarakat. Alhamdulillah, saya menikmati setiap langkahnya.

Memang tak mudah menjani kehidupan seperti ini, Dari subuh sudah harus bagun dan membangunkan anak-anak untuk di ajak sholat berjamaah. Setelah shubuh kita melakukan pembinaan berupa baca al-qur’an, hafalan, kultum, sirah,  alma’surat dan olahraga.
Setelahnya, saya harus memasak terlebih dahulu untuk sarapan pagi dan makan siang sebelum berangkat bekerja. Tak jarang saya datang terlambat ke kantor, jarak kantor cukup jauh dari tempat saya tinggal. Sesampai di kantor tumpukan pekerjaan sudah menunggu, tapi alhamdullah teman-teman sekantor saya, mereka yang sangat baik  menyambut saya dengan menjawab salam saya dengan senyuman.

Malamnya, saya mengikuti pengajian bersama anak-anak binaan. Cukup melelahkan. Kini saya menyadari betapa kuatnya seorang ayah maupun ibu melaksanakan amanahnya dari pagi hingga malam tanpa ada mengeluh demi mencari nafkah tuk anak, istri dan keluarganya.

Amanah satu per satu selesai, tinggal satu amanah yaitu kuliah.
selasai kerjaan dari kantor, saya juga harus menyelesaikan tugas yang di berikan dosen di kampus dan tentunya malam ini saya harus begadang kembali untuk menyelesaikanya.

Ya sekarang saya harus kuliah sambil kerja tuk menyelesaikan kuliah secara mandiri karena bantuan dana dari orang tua telah terputus sejak 3 tahun lalu karna mereka meninggal dunia pada sebuah kecelakaan motor seusai menghadiri kondangan sepupu di kampung tetangga. Memang tak ada yang menyangka kejadiannya seperti itu, tapi Allah berkehendak lain. Kini saya harus siap menerima semua ini, memang  secara pribadi saya belum siap menerima amanah sebesar ini menjadi kepala keluaga dan tulang punggung bagi adik-adik sementara saya juga masih kuliah.

Sempat beberapa semester saya harus meminjam uang teman untuk membayar SPP karna tak ada uang yang biasanya di kirim dari orang tua di kampung, karena itu lah saya harus bekerja tuk membayar uang kuliah dan kehidupan keluargaku.

Semoga Allah selalu memberi rahmat dan hidayahnya pada kita semua agar tetap kuat dalam menjani kehidupan ini. Aamin.(*)

Menarik untuk Dibaca

loading...