loading...

Friday, September 23, 2016

Dituduh Bakar Tong Sampah, Ormawa se-FBS Adakan Rapat Negosiasi

Dituduh Bakar Tong Sampah, Ormawa se-FBS Adakan Rapat Negosiasi

Sejumlah organisasi mahasiswa selingkungan Fakultas Bahasa dan Seni UNP melakukan rapat negosiasi dengan pihak universitas, Selasa (20/9). Ormawa yang mengikuti rapat tersebut, terdiri atas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Indonesia, HMJ Bahasa Inggris, HMJ Sendratasik, HMJ Seni Rupa, Badan Eksekutif Mahasiswa FBS, dan Badan Permusyawaratan Mahasiswa FBS yang masing-masingnya diwakili oleh tiga orang.

Salah seorang perwakilan HMJ Seni Rupa, Riyan Patrio, menjelaskan bahwa rapat negosiasi ini dipicu oleh tuduhan pembakaran dua tong sampah di depan Jurusan Sendratasik, Minggu malam (18/9). Pihak kampus menganggap bahwa pembakaran itu sengaja dilakukan oleh oknum ormawa yang memiliki maksud tidak baik. “Pasti se urang hima yang mambakanyo. Kalau indak urang hima sia juo lai!” ujar Riyan meniru ucapan salah seorang pihak kampus tersebut.

Ormawa sendiri, kata Riyan, menyangkal tuduhan tersebut. ”Kami dituduh membakar tong sampah, padahal kami ndaktahu siapa membakarnya,” tegasnya.

Kasus pembakaran pun berujung kepada penutupan paksa beberapa sekretariat ormawa, seperti Sekretariat HMJ Sendratasik, Sekretariat HMJ bahasa Inggris, dan Sekretariat HMJ bahasa Indonesia, oleh pihak kampus dan keamanan pada 18.00 WIB, Senin (19/9). “Padahal, saat itu, anak bahasa Indonesia sedang rapat,” imbuhnya.

Tidak terima ditutup paksa, ormawa pun melakukan rapat kecil untuk membahas masalah tersebut. “Kami duduk di siko. Ruponyo, pas saat kami rapek, datang utusan dari rektorat, keceknyo. Saya tidak tahu namanya. Ado aparat, ado tentara juo gai,” terang Riyan.

Sementara itu, rapat negosisiasi yang berlangsung pada hari ini, selain klarifikasi tentang kasus pembakaran tersebut, pihak ormawa juga menggunakan kesempatan rapat negosiasi tersebut untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa.

Ormawa meminta pihak kampus agar menyediakan otonom khusus bagi FBS. Hal ini sama dengan Komunitas Robotik Fakultas Teknik yang juga diberi otonomi khusus untuk mempergunakan ruangan 24 jam. FBS, kata Riyan, juga butuh hal tersebut. Hal ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin mengerjakan tugasnya malam hari di kampus. Riyan mencontohkan mahasiswa sendratasik yang membuat patung di tempat kos. “Bisa-bisa tetangganya terganggu. Itu tentu tidak mungkin,” ujarnya.

Selain perlunya otonomi khusus bagi FBS, ormawa juga mendesak agar pihak kampus meningkatkan keamanan kampus. Dia mempertanyakan kinerja satpam yang membiarkan pengemis dan pemulung masuk ke areal kampus. Tambahannya pula ormawa juga menyampaikan keluhannnya agar pihak kampus memperbaiki sistem UKT dan BLU. "Harapannya, ya, lebih mengutamakan kepentingan mahasiswa lah. Jangan kepentingan-kepentingan politik saja yang dikedepankan,” tutup Riyan.


sumber: Ganto

Menarik untuk Dibaca

loading...