loading...

Monday, October 17, 2016

Menaker RI Beri Kuliah Umum di UNP

Menaker RI Beri Kuliah Umum di UNP

Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia, Muhammad Hanif Dhakiri, S.Ag., M.Si., memberikan kuliah umum di Medan nan Balinduang Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (8/10). Hanif merupakan menteri keempat yang datang ke UNP setelah dilantiknya Prof. Drs H. Ganefri, M.Pd., Ph.D. sebagai Rektor UNP sekitar dua setengah bulan lalu. Dia datang ke UNP dalam rangka menyemarakkan Dies Natalis UNP ke-62.

Dalam paparannya, Hanif menjelaskan bahwa akibat globalisasi, dunia mengalami perubahan. Seluruh negara di dunia tidak lagi mengenal tapal batas. Artinya, seluruh negara sudah terintegrasi dalam suatu daerah yang dinamakan desa globalisasi. Dari segi sosial, perubahan tersebut berlangsung sangat dramatis. Dia mencontohkan bahwa dulu jika ingin mengirim surat, maka harus lewat pos. Sementara pada zaman sekarang, orang cukup berkomunikasi lewat berbagai media sosial, seperti BBM, Facebook, Instagram, Twitter, ataupun Whatshap. “Kejadian yang terjadi pada suatu tempat bisa langsung diketahui pada saat yang sama di belahan dunia yang lain,” katanya.

Hanif pun menambahkan bahwa bukan hanya dari segi sosial, perubahan yang sangat dramatis juga terjadi di bidang ekonomi. Jika dulu bahan utama dari alat produksi adalah tenaga kerja, modal, tanah, atau pabrik, maka sekarang sudah bergeser dengan apa yang disebut sebagai knowledge. “Ekonomi kita bergeser dari ekonomi indutri menjadi eknomi knowledge,” jelasnya. Oleh karena itu, lanjut Hanif, peran dari sumber daya manusia yang berilmu pengetahuan menjadi sangat dibutuhkan. “Inilah yang harus dikejar oleh RI yang kita cintai ini,” imbuhnya.

Hanif juga menyampaikan bahwa menurut prediksi sejumlah kalangan, Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada 2030. Untuk mecapai hal tersebut, ada konsekuensi kerja keras yang ditanggung oleh bangsa Indonesia sendiri. “Syaratnya, Indonesia harus memiliki 113 juta tenaga kerja skills yangkonowledge-nya kuat,” jelasnya.

Sementar itu, pada 2016 ini Indonesia baru memiliki 55 juta tenaga kerja. Artinya, dalam jangka setahun, bangsa Indonesia harus mencetak 4 juta tenaga kerja. “Ini menjadi tantangan yang besar bagi negara ini, baik dari pemerintah, industri, maupun perguruan tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan bahwa untuk mencapai target 2030 tersebut, perguruan tinggi harus mendorong agar tenaga kerja yang berkualitas tercetak tiap tahunnya. Hal ini akan berdampak positif terhadap pemenuhan tenaga kerja pasar bebas Indonesia. Dia meminta agar perguruan tinggi yang ada di Indonesia untuk memfokuskan diri terhadap apa yang menjadi kebutuhan pasar bebas, baik dalam maupun luar negeri. “Perguruan tinngi harus berkontribusi lebih besar agar dapat meningkatkan relevansi lulusannya dalam mengahdapi pasar bebas,” ujarnya.

Menarik untuk Dibaca

loading...